![]() |
| nerdist.com/article/dune-part-one-questions-answered-denis-villeneuve-timothee-chalamet |
Jadi, ini postingan atau konten pertamaku setelah sedikit perkenalan di post sebelumnya. Ya, jadi konten pertamaku ini ingin menuliskan review film. Salah satu hobiku adalah menonton film. Di sini aku ingin membahas salah satu film yang paling kutunggu-tunggu di tahun 2021 ini. Apalagi kalau bukan, DUNE! Tulisan ini akan menjelaskan mengapa saya menuliskan judul seperti itu. Sorry to you, Nolan-fanboys! :)
Sebelum masuk ke pembahasan Dune, saya ingin membahas bagaimana tahun 2020 kemarin seharusnya menjadi tahunnya Denis bersama dengan Nolan yang seharusnya bisa merilis karya mereka di tahun yang sama. Tetapi seperti yang kita tahu, akhirnya Dune harus rela untuk memundurkan jadwal rilis dan baru bisa tampil ke khalayak umum secara global per tanggal 22 Oktober 2021. Beruntungnya di Indonesia sendiri seperti beberapa film hollywood lainnya kebagian jadwal rilis lebih awal, yaitu tanggal 13 Oktober 2021 seperti halnya di beberapa negara di Eropa yang juga memiliki tanggal tersendiri rilis lebih cepat dari tanggal rilis global.
Saya mulai dari pendapat saya mengenai film Tenet, karya terbaru garapan Christopher Nolan yang rilis global di akhir tahun 2020 sedangkan di Indonesia baru masuk ke bioskop di awal tahun 2021 lalu. Pertama, disini saya akui bahwa saya menonton film tersebut dengan cara yang tidak seharusnya, if you know what I mean and I'm sorry Mr. Nolan for that, :( Tapi tapi,.. ini bukan tanpa alasan bahwa saya menonton filmnya doi yang super keren tersebut secara visual secara ilegal yang seharusnya saya tonton di bioskop ketika saya selesai menonton film tersebut. Jadi, sudah seperti kebiasaan saya bila ada sebuah film bagus yang sudah direncanakan untuk nonton di bioskop saya selalu membaca beberapa komentar netizen terlebih dahulu sebelum benar-benar meyakinkan diri apakah film tersebut worth it-kah bila ditonton di bioskop.
Kaskus, blogger review film dan konten review film di Youtube menjadi media yang saya kunjungi tatkala ingin membaca komentar dan diskusi netizen dari film tersebut. Kanal Youtube kesukaan saya perihal review film diantaranya ada Sumatran bigfoot dan Cine crib. Dari komentar-komentar yang saya baca sudah dipastikan film Tenet menjadi salah satu another his most ambitious movies dan digadang-gadang menjadi film paling rumit secara konsep dan alur yang pernah ia buat. Ya, karena review film Tenet ini sudah telat saya yakin kalian semua juga sudah menontonnya dan memiliki pandangan pribadi masing-masing terhadap film ini. Buat saya pribadi, setelah menonton film ini hanya satu kata terpatri di kepalaku: KECEWA.
Ya, bagaimana tidak. Jauh sebelum film ini tayang, ketika trailer dirilis jelas Tenet punya konsep yang sangat menarik. Inversion. Konsep tersebut saya harapkan bakal lebih wah dan epik dibandingkan Inception yang masih menjadi film favoritku dari doi selain The Dark Knight, tentunya. Sedari awal saya sudah curiga film terbaru ini tidak akan menjadi yang terbaik dari doi setelah melihat hasil perolehan box office as global dan film terakhir doi yang kutonton di bioskop, Dunkirk. Selain dari pandangan saya terhadap film ini setelah menonton, efek pandemi yang kala itu sedang tinggi-tingginya melegalkan saya untuk mengurungkan saya menonton film ini di bioskop and I'm a bit glad and sad in the same time to watch it at home.
Review singkat saya tentang film ini adalah Nolan sudah memiliki konsep yang bagus tapi saya tidak suka dengan tempo film ini yang terasa secepat kilat meskipun film ini berdurasi 2 jam 20 menit. Ini yang paling saya kritisi dari film teranyar Nolan tersebut. Nolan menjejalkan berbagai macam istilah ilmiah dengan dialog explaination-nya seperti yang ia lakukan di Inception. Tapi entah otak saya yang lemot untuk mencerna penjelasannya atau karena filmnya saya merasa belum selesai mencerna topik apa yang sedang mereka bahas scene sudah berpindah ke adegan selanjutnya. Hampir sepanjang film sering saya rasakan experience tersebut dan tentu karena saya menontonnya di rumah saya sampai harus beberapa kali harus pause or rewind untuk memahami dialognya. Nggak kebayang seperti apa otak saya atau mood saya ketika menonton film ini didalam bioskop. Dibandingkan film Dunkirk, jelas saya lebih enjoy menonton film tersebut selain disamping nilai jual cinematic experience yang ditawarkan Dunkrik meskipun film tersebut tidak berkesan di hati saya ketika saya keluar dari bioskop kala itu.
The point is, sejak Dunkirk saya melihat daya magis Nolan sudah semakin pudar membuat kita takjub seperti film-film doi sebelumnya. Setelah film ini, saya bahkan sudah tidak tertarik dengan proyek film-film doi berikutnya seperti pengumuman proyek selanjutnya doi berupa biopik Oppenheimer di tahun 2023 yang akan bersaing dengan Dune: Part Two nanti. Hanya bisa berharap sih doi bisa kembali bersinar dengan film-film doi seperti Interstellar contohnya yang saya suka juga. Apalagi ketika saya bandingkan dengan karya terbarunya Denis Villeneuve, I should admit it now I'm a Denis fan!
Nah, jadi Dune ini...
Ps. Judul post sebelum ini adalah Dune (2021) Karya Teranyar Denis Villeneuve yang Membuatku Berpaling dari Nolan!

